Menu Tutup

Melawan Hoaks dengan Adab: Misi Besar Kalam Al-Hikam dalam Literasi Media Sosial

Di era digital yang penuh dengan arus informasi yang tidak terbendung, penyebaran berita bohong atau hoaks telah menjadi ancaman serius bagi stabilitas sosial dan integritas moral bangsa. Informasi yang salah tidak hanya merusak reputasi individu, tetapi juga mampu memicu perpecahan di tengah masyarakat. Dalam konteks inilah, upaya Melawan Hoaks dengan Adab menjadi sebuah gerakan yang sangat krusial. Adab, sebagai fondasi karakter dan etika dalam tradisi Islam, menawarkan solusi yang lebih mendalam daripada sekadar literasi teknis. Ia mengajarkan bagaimana kita seharusnya berperilaku dan bertanggung jawab atas setiap kata yang kita sebarkan di ruang publik digital.

Gerakan ini merupakan bagian dari Misi Besar Kalam Al-Hikam yang berusaha membawa nilai-nilai kebijaksanaan spiritual dari kitab klasik Al-Hikam karya Syekh Ibnu Atha’illah as-Sakandari ke dalam realitas modern. Kalam Al-Hikam menekankan pentingnya kejernihan hati dan ketelitian dalam menerima setiap kabar. Dalam Literasi Media Sosial, adab bukan hanya tentang sopan santun dalam berkomentar, tetapi juga tentang komitmen untuk melakukan tabayyun atau verifikasi sebelum mempercayai atau menyebarkan sebuah informasi. Dengan menanamkan adab, seorang pengguna media sosial akan memiliki rem internal yang kuat untuk tidak terburu-buru bereaksi terhadap provokasi atau kabar yang belum jelas kebenarannya.

Penyebaran hoaks sering kali dipicu oleh nafsu untuk menjadi yang pertama tahu atau keinginan untuk memojokkan pihak lain. Di sinilah Kalam Al-Hikam berperan sebagai penawar, mengingatkan bahwa setiap perbuatan, termasuk aktivitas digital, akan dimintai pertanggungjawabannya. Strategi Melawan Hoaks dengan pendekatan ini mengedepankan prinsip bahwa menjaga lisan (dan jempol di layar ponsel) adalah bentuk ibadah. Literasi media yang hanya mengandalkan logika sering kali gagal melawan narasi emosional hoaks, namun literasi yang berbasis adab menyentuh sisi kemanusiaan dan spiritualitas, sehingga menciptakan pengguna internet yang lebih bijak, tenang, dan tidak mudah terombang-ambing oleh tren negatif.

Pentingnya Literasi Media Sosial yang beradab juga mencakup cara kita menegur kesalahan orang lain. Sering kali, upaya meluruskan hoaks justru dilakukan dengan cara yang kasar, yang akhirnya memicu debat kusir yang tidak berujung. Melalui misi ini, masyarakat diajak untuk menyampaikan kebenaran dengan cara yang baik (ma’ruf), tanpa harus merendahkan martabat orang lain.