Tahapan awal dari kegiatan ini dimulai dengan praktik pembuatan ulir yang melibatkan perhitungan rasio roda gigi dan pemilihan mata potong yang tepat. Siswa dilatih untuk memahami geometri ulir, mulai dari sudut puncak hingga jarak antara puncak ulir atau pitch. Menggunakan mesin perkakas untuk membentuk profil spiral pada batang logam memerlukan koordinasi tangan yang sangat halus dan fokus mata yang tajam. Kesalahan dalam menentukan kecepatan potong atau keterlambatan dalam menarik tuas pembebas otomatis dapat mengakibatkan rusaknya profil ulir yang sedang dibentuk. Oleh karena itu, latihan berulang kali menggunakan material percobaan sangat ditekankan sebelum siswa diizinkan mengerjakan proyek benda kerja yang sesungguhnya.
Alat utama yang digunakan dalam proses produksi komponen presisi ini adalah baut dengan mesin frais yang telah dilengkapi dengan kepala pembagi atau dividing head. Berbeda dengan proses pembubutan biasa, penggunaan mesin frais memungkinkan siswa untuk membuat bentuk kepala baut yang berbentuk segi enam dengan tingkat simetris yang sempurna. Siswa belajar cara mengatur posisi meja mesin dan menggunakan pisau frais untuk menyayat permukaan logam secara bertahap. Pengetahuan mengenai cairan pendingin atau coolant juga diberikan agar suhu mata potong tetap terjaga, sehingga hasil sayatan menjadi lebih halus dan alat potong memiliki umur pakai yang lebih lama dalam proses produksi skala kecil di sekolah.
Standar yang diterapkan dalam praktik ini mengacu pada penggunaan industri manufaktur yang menuntut hasil kerja tanpa cacat. Setiap baut yang telah selesai diproduksi wajib melewati tahap pengujian menggunakan alat ukur kaliber atau thread gauge untuk memastikan bahwa ulir tersebut dapat berpasangan sempurna dengan mur standar di pasaran. Jika ditemukan adanya penyimpangan ukuran, siswa harus melakukan analisis penyebabnya, apakah karena kesalahan penyetelan mesin atau keausan pada pahat potong. Proses evaluasi diri ini sangat penting untuk membentuk mentalitas teknisi yang bertanggung jawab terhadap kualitas produk yang dihasilkan, serta menumbuhkan rasa bangga atas karya tangan mereka sendiri.